SERPIHAN HATI
Aisha
masih belum dapat meyakinkan Ka Rasha, bahwa dia akan baik-baik saja tinggal di
Bandung kota yang menawarkannya sebuah
kesempatan untuk dapat bekerja sebagai seorang fashion styles, suatu cita-cita yang diinginkannya semasa kecil,
semasa dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Masih
teringat di bayangannya ketika itu, dia
menggunting habis pakaian ibunya hanya untuk di ubahnya menjadi beberapa gaun untuk boneka barbie kesayangannya, saat
itu sang ibu hanya bisa mengerutkan dahi melihat kelakuan putri bungsunya, tanpa bisa berkata banyak karena saat itu
Aisha hanyalah seorang anak yang baru berusia 7 tahun, yang saat ini telah
menjelma menjadi seorang gadis berusia 23 tahun..
Ya,
Aisha Camelia Putri itulah namanya, gadis berpostur tubuh tinggi dan berhidung
mancung ini kini telah menjelma menjadi sosok wanita yang santun dan baik hati,
dan karena sifat inilah membuat Rasha Aiman Nugraha putra dari seorang pemilik bank swasta jatuh hati
padanya, bukan karena hanya parasnya saja yang cantik, tapi memang kepribadian
Aisha lah yang menjadikan gadis itu begitu memikat hatinya, meski usia mereka
terpaut 7 tahun tapi mereka masih dapat berjalan berdampingan mengukir visi dan
misi dimasa depan.
Selain
itu Rasha seorang sosok yang sangat dewasa dan dapat menjadi imam yang baik
untuk Aisha, seharusnya tahun ini, merupakan tahun untuk keduanya mengikrarkan
janji suci dan menyatukannya dalam ikatan pernikahan, namun karena tawaran
menjadi fashion styles menghampiri
Aisha, dia pun meminta kepada calon suaminya tersebut untuk bersabar menunggu
selama 2 tahun.
“ Sha-sha, apa kamu yakin dengan
keputusan kamu untuk menetap sendiri di Bandung, “ Tanya Rasha di sela-sela
jamuan makan malam
“ Ka, ini sudah sering kita bahas
kan? Aku yakin aku bisa hidup sendiri disana, nanti kalau Kaka ingin bertemu
aku, Kaka kan bisa datang ke Bandung, Jakarta-Bandung kan deket Ka, “jawabnya,
sambil memegang halus kedua tangan Rasha dengan terus meyakinkannya.
Rasha
hanya bisa menarik nafas tanpa bisa lagi menahan Aisha yang tetap pada
pendiriannya, dia sadar betul bahwa ini adalah impian Aisha sejak lama, dia pun
tak ingin mematahkan harapan dan impian gadis yang sangat disayanginya itu,
dengan penuh rasa berat hati, Rasha pun membiarkannya pergi sementara dari
sisinya..
Sudah
tiga bulan Aisha menjalani aktivitasnya di Bandung sebagai seorang fashion styles, pekerja’an yang padat hampir membuat Aisha lupa untuk
menghubungi Rasha, namun sosok Rasha yang dewasa dan selalu banyak kejutan
selalu mampu menghilangkan rasa lelah yang menghampiri Aisha, Rasha tidak
pernah marah walaupun terkadang Aisha benar-benar tidak menghubunginya karena
terlalu disibukan dengan pekerja’annya,
sampai suatu waktu saat Aisha masih dikantor pukul 22.00, tiba-tiba dia
dikagetkan dengan kehadiran Rasha yang sudah berada persis di depan mejanya
hanya untuk membawakannya makanan dan pakaian hangat. Benar-benar laki-laki
yang didambakan oleh seluruh kaum hawa yang ada di dunia..
“ Kamu sudah telpon Aisha nak? “
ujar Ny Hendra Nugraha ibunda dari Rasha yang sore itu mampir ke ruangan Rasha
yang menjabat sebagai Direktur di Perusahaan perbankan milik
keluarganya
“ Sudah Mah, Cuma masih belum di
angkat ponselnya, mungkin Aisha sedang meeting sama clienya, “ jawab Rasha
sambil memeriksa laporan-laporan dari stafnya.
“ Ya sudah, nanti kamu coba telepon
Aihsa lagi ya Nak, takut ada apa-apa, Aisha kan disana sendiri kadang-kadang Mamah
suka khawatir,” Ujar kembali wanita paruh baya yang keibuan dan sangat
menyayangi calon menantunya tersebut.
Ditengah
kesibukan Rasha yang sedang memeriksa
laporan-laporan keuangan, dia dikagetkan dengan ketukan pintu, saat itu jam
sudah menunjukan pukul 19.00, rasanya tidak mungkin sang Mamah kembali lagi ke kantor, namun ketika dia
mempersilahkan si pengetuk pintu itu masuk, matanya berbinar-binar, senyumanya
mengembang dan mukanya pun berseri-seri karena Aihsa lah yg mengetuk pintu
tersebut..
“ Assalamualikum Ka, “ ujar Aisha
sambil menebar senyumnya yang penuh kehangatan
“ Aishaaaa, Kaka bener-bener
terkejut, hemm kamu yaaa, bikin kaka khawatir telepon Kaka tidak dijawab, “ Rasha
berdiri dan menghampiri Aisha sambil mengusap kepala Aisha.
“ Ma’af ya Ka, sudah bikin Kaka
khawatir, Aisha sengaja pengen buat kejutan buat Kaka,” jawabnnya manja
Hari
itupun dihabiskan mereka untuk melepas rasa rindu, dan saling bercerita dengan
kegiatan masing-masing. Begitu besar ikatan cinta mereka yang menjadikan mereka
saling mengerti dan memahami satu dan lainya, tak pernah ada masalah besar
yang membuat hubungan mereka merenggang, andaikan ada penobatan pasangan
terbaik, mungkin merekalah yang mendapat predikatnya. Mungkin orang lain
menganggap hubungan mereka sebagai
sesuatu yang mustahil ada didunia ini, tapi begitulah hubungan mereka mengalir
apa adanya tanpa ada yang merasa terbebani satu dan lainnya.
Sudah
hampir dua tahun waktu yang dilalui Aisha di Bandung, kendati begitu padatnya
aktivitas namun tak membuat hubungannya dengan Rasha merenggang, namun beberapa
hari ini ada kejanggalan dalam pesan singkat yang dikirimkan oleh Rasha, ada
nada kesedihan yang tersirat dari pesan tersebut, setiap kali Aisha menanyakan
maksud dari pesan tersebut Rasha hanya membelasnya dengan sebuah guyonan kalau
itu hanya kata-kata galau yang terkontaminasi dari beberapa acara di televisi
yang sedang populer saat ini.
Entah
kenapa, meski Rasha terus meyakinkan Aisha bahwa tidak ada sesuatu yang aneh,
hati kecil Aisha terus bertanya-tanya ada apa dengan laki-laki yang sangat
disayanginya itu, apakah sesuatu telah terjadi atau menimpanya, sungguh hari
itu Aisha tidak dapat focus dalam bekerja
yang akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Jakarta malam itu juga.
Selama
perjalanan pulang menuju Jakarta, berjuta kegelisahan menghampiri pikirannya,
bhatinya terus bertanya-tanya ada apa dengan Rasha? ada apa dengan kekasih
hatinya? Apakah yang terjadi? Atau sesuatu yang besar telah menimpanya? nafasnya
sesak dan jantungnya terus berdetak kencang, sesampainya di rumah dia tidak
mendapati seseorangpun di rumahnya. Rumah yang begitu besar, kosong bagaikan
tak berpenghuni, tak biasanya rumah di biarkan kosong seperti ini, sambil menghela nafas panjang dia pun
menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
Tangannya
hendak menggapai surat kabar yang berada diatas meja ruang tamu, namun ada
sesuatu jatuh dari dalam selipan surat kabar tersebut , dengan penuh hati-hati
diapun mengambilnya dan jantungnya kembali berdetak kencang saat di dapatinya
sebuah undangan pernikahan bewarna pink muda yang bertuliskan nama Rasha Aiman
Nugraha , tangannya kaku,tubuhnya lemas dan jari-jemarinya seakan tidak punya kekuatan untuk membuka isi dari
undangan tersebut.
Dengan
penuh keberanian, Aisha pun membuka undangan tersebut dan tertulis jelas nama
dari kekasihnya tersebut, Rasha Aiman Nugraha putra pertama dari Bpk Hendra
Nugraha yang menikah dengan Elis Nuryani putri pertama dari Bpk Suhaedin.Aisha
tak kuasa menahan tangis, tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga, seakan
sebagian nyawanya telah pergi dari dirinya, mulutnya kaku tanpa bisa berkata
apapun, semua terasa amat gelap saat itu.
Tak
berapa lama orang tuanya pun datang, mereka begitu shok melihat putri
kesayanganya lemas tak berdaya tatapan matanya kosong dan air mata membanjiri
kelopak matanya, dengan sigap sang Mamah langsung memeluk buah hatinya dan
berusaha menenangkanya..
“
Ada apa ini Mah? Apa yang terjadi? “ tanyanya dengan suara bergetar, belum
sempat sang mamah menjelaskan, Aisha sudah beranjak dari pelukan sang mamah dan
mengambil kunci mobilnya, sang mamah sudah
tidak dapat menahan buah hatinya untuk pergi.
Mobil
Aisha berlaju sangat kencang, dan seketika menghilang dari pandangan orang
tuanya, begitu hancur hatinya saat itu, ketika harapannya di masa depan telah
pupus, yang ada dipikarannya saat itu adalah hanya menemui Rasha untuk meminta
penjelasan, tak lama diapun sampai di depan pintu rumah Rasha dengan tangan
yang bergetar diapun mengetuk pintu rumahnya.
“ Sha-sha, ujar Rasha ketika membuka
pintu, dia pun langsung memeluk kekasih hatinya tersebut, mendekap erat Aisha
seakan tidak mau melepaskan gadis yang sangat di cintainya itu, seakan Rasha
merasakan kepedihan hati Aisha.
Dengan
tatapan penuh amarah, Aisha menatap Rasha yang saat itu berada di hadapanya
“ Ada apa ini ka?” tanyanya sambil
menunjukan undangan pernikahan Rasha, “ Apa maksud dari semua ini, kenapa Kaka
ingkari janji kita, apa salah sha-sha ka?”
“ Sha-sha, kamu tidak salah apa-apa,
“ jawabnya pelan sambil menundukan kepala.
“ Teruuss kenapa Kaka sakiti
perasaanku, “ Aisha tak dapat membendung lagi isak tangisnya yang mengalir
deras membasahi kelopak matanya.
“
Sha, Kakapun tersakiti dengan keadaan ini, kaka pun terluka, akan tetapi memang ini yang harus kaka hadapi
untuk suatu tanggung jawab yang harus kaka jalani.
Aisha semakin tidak mengerti dengan jawaban yang
disampaikan oleh Rasha, mengapa Rasha juga tersakiti, mengapa semua ini karena
untuk suatu tanggung jawab yang harus dijalani dan akhirnya rasha pun melanjutkan
pembicaraanya.
“
Sebulan yang lalu, sewaktu Kaka menuju Bandung hendak menemuimu Kaka terkena musibah,
saat itu hujan sangat deras dan jalanan sulit untuk dikendalikan, sampai
akhirnya tak sengaja Kaka menabrak seorang Bapak-bapak pencari kayu bakar, Kaka
sudah berusaha membawanya ke rumah sakit terdekat tapi tuhan berkata lain, Bapak
tersebut meninggal dunia, dan belakangan ini Kaka mengetahui Bapak tersebut
memiliki seorang anak perempuan bernama Elis yang sedang hamil 3 Bulan yang menjadi korban pemerkosaan, dan Kaka pun memutuskan untuk menikahi Elis dan menjadi Ayah
dari Anak yang sedang dikandungnya,”
Tubuh Aisha kaku seketika, mendengar penjelasan dari
Rasha, hatinya hancur namun bangga akan apa yang sudah dilakukan kekasihnya,
begitu besar tanggung jawab yang harus dilakukannya kendati Aisha pun merasakan
begitu perihnya hati Rasha, Begitu besar pengorbanan yang harus dilakukan oleh Rasha,
Aisha semakin tak dapat membendung lagi isak tangisnya dan larut dalam pelukan
Rasha, pelukan terkahir Rasha sebelum Rasha mengikrar janji untuk setia berada
disamping gadis yang akan dinikahinya.