Selasa, 16 Juli 2013

Serpihan hati



SERPIHAN HATI



Aisha masih belum dapat meyakinkan Ka Rasha, bahwa dia akan baik-baik saja tinggal di Bandung kota yang menawarkannya  sebuah kesempatan untuk dapat bekerja sebagai seorang fashion styles, suatu cita-cita yang diinginkannya semasa kecil, semasa dia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Masih teringat di bayangannya ketika itu,  dia menggunting habis pakaian ibunya hanya untuk di ubahnya menjadi beberapa  gaun untuk boneka barbie kesayangannya, saat itu sang ibu hanya bisa mengerutkan dahi melihat kelakuan putri bungsunya,  tanpa bisa berkata banyak karena saat itu Aisha hanyalah seorang anak yang baru berusia 7 tahun, yang saat ini telah menjelma menjadi seorang gadis berusia 23 tahun..

Ya, Aisha Camelia Putri itulah namanya, gadis berpostur tubuh tinggi dan berhidung mancung ini kini telah menjelma menjadi sosok wanita yang santun dan baik hati, dan karena sifat inilah membuat Rasha Aiman Nugraha putra dari  seorang pemilik bank swasta jatuh hati padanya, bukan karena hanya parasnya saja yang cantik, tapi memang kepribadian Aisha lah yang menjadikan gadis itu begitu memikat hatinya, meski usia mereka terpaut 7 tahun tapi mereka masih dapat berjalan berdampingan mengukir visi dan misi dimasa depan.

Selain itu Rasha seorang sosok yang sangat dewasa dan dapat menjadi imam yang baik untuk Aisha, seharusnya tahun ini, merupakan tahun untuk keduanya mengikrarkan janji suci dan menyatukannya dalam ikatan pernikahan, namun karena tawaran menjadi fashion styles menghampiri Aisha, dia pun meminta kepada calon suaminya tersebut untuk bersabar menunggu selama 2 tahun.

            “ Sha-sha, apa kamu yakin dengan keputusan kamu untuk menetap sendiri di Bandung, “ Tanya Rasha di sela-sela jamuan makan malam
            “ Ka, ini sudah sering kita bahas kan? Aku yakin aku bisa hidup sendiri disana, nanti kalau Kaka ingin bertemu aku, Kaka kan bisa datang ke Bandung, Jakarta-Bandung kan deket Ka, “jawabnya, sambil memegang halus kedua tangan Rasha dengan terus meyakinkannya.

Rasha hanya bisa menarik nafas tanpa bisa lagi menahan Aisha yang tetap pada pendiriannya, dia sadar betul bahwa ini adalah impian Aisha sejak lama, dia pun tak ingin mematahkan harapan dan impian gadis yang sangat disayanginya itu, dengan penuh rasa berat hati, Rasha pun membiarkannya pergi sementara dari sisinya..


Sudah tiga bulan Aisha menjalani aktivitasnya di Bandung sebagai seorang fashion styles, pekerja’an yang padat hampir membuat Aisha lupa untuk menghubungi Rasha, namun sosok Rasha yang dewasa dan selalu banyak kejutan selalu mampu menghilangkan rasa lelah yang menghampiri Aisha, Rasha tidak pernah marah walaupun terkadang Aisha benar-benar tidak menghubunginya karena terlalu disibukan dengan pekerja’annya,  sampai suatu waktu saat Aisha masih dikantor pukul 22.00, tiba-tiba dia dikagetkan dengan kehadiran Rasha yang sudah berada persis di depan mejanya hanya untuk membawakannya makanan dan pakaian hangat. Benar-benar laki-laki yang didambakan oleh seluruh kaum hawa yang ada di dunia..

            “ Kamu sudah telpon Aisha nak? “ ujar Ny Hendra Nugraha ibunda dari Rasha yang sore itu mampir ke ruangan Rasha yang menjabat sebagai Direktur  di Perusahaan perbankan milik keluarganya
            “ Sudah Mah, Cuma masih belum di angkat ponselnya, mungkin Aisha sedang meeting sama clienya, “ jawab Rasha sambil memeriksa laporan-laporan dari stafnya.
            “ Ya sudah, nanti kamu coba telepon Aihsa lagi ya Nak, takut ada apa-apa, Aisha kan disana sendiri kadang-kadang Mamah suka khawatir,” Ujar kembali wanita paruh baya yang keibuan dan sangat menyayangi calon menantunya tersebut.

Ditengah kesibukan Rasha yang sedang  memeriksa laporan-laporan keuangan, dia dikagetkan dengan ketukan pintu, saat itu jam sudah menunjukan pukul 19.00, rasanya tidak mungkin sang Mamah  kembali lagi ke kantor, namun ketika dia mempersilahkan si pengetuk pintu itu masuk, matanya berbinar-binar, senyumanya mengembang dan mukanya pun berseri-seri karena Aihsa lah yg mengetuk pintu tersebut..

            “ Assalamualikum Ka, “ ujar Aisha sambil menebar senyumnya yang penuh kehangatan
            “ Aishaaaa, Kaka bener-bener terkejut, hemm kamu yaaa, bikin kaka khawatir telepon Kaka tidak dijawab, “ Rasha berdiri dan menghampiri Aisha sambil mengusap kepala Aisha.
            “ Ma’af ya Ka, sudah bikin Kaka khawatir, Aisha sengaja pengen buat kejutan buat Kaka,” jawabnnya manja

Hari itupun dihabiskan mereka untuk melepas rasa rindu, dan saling bercerita dengan kegiatan masing-masing. Begitu besar ikatan cinta mereka yang menjadikan mereka saling mengerti dan memahami satu dan lainya, tak pernah ada masalah besar yang membuat hubungan mereka merenggang, andaikan ada penobatan pasangan terbaik, mungkin merekalah yang mendapat predikatnya. Mungkin orang lain menganggap hubungan mereka  sebagai sesuatu yang mustahil ada didunia ini, tapi begitulah hubungan mereka mengalir apa adanya tanpa ada yang merasa terbebani satu dan lainnya.

Sudah hampir dua tahun waktu yang dilalui Aisha di Bandung, kendati begitu padatnya aktivitas namun tak membuat hubungannya dengan Rasha merenggang, namun beberapa hari ini ada kejanggalan dalam pesan singkat yang dikirimkan oleh Rasha, ada nada kesedihan yang tersirat dari pesan tersebut, setiap kali Aisha menanyakan maksud dari pesan tersebut Rasha hanya membelasnya dengan sebuah guyonan kalau itu hanya kata-kata galau yang terkontaminasi dari beberapa acara di televisi yang sedang populer saat ini.

Entah kenapa, meski Rasha terus meyakinkan Aisha bahwa tidak ada sesuatu yang aneh, hati kecil Aisha terus bertanya-tanya ada apa dengan laki-laki yang sangat disayanginya itu, apakah sesuatu telah terjadi atau menimpanya, sungguh hari itu Aisha tidak dapat focus dalam bekerja  yang akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Jakarta malam itu juga.

Selama perjalanan pulang menuju Jakarta, berjuta kegelisahan menghampiri pikirannya, bhatinya terus bertanya-tanya ada apa dengan Rasha? ada apa dengan kekasih hatinya? Apakah yang terjadi? Atau sesuatu yang besar telah menimpanya? nafasnya sesak dan jantungnya terus berdetak kencang, sesampainya di rumah dia tidak mendapati seseorangpun di rumahnya. Rumah yang begitu besar, kosong bagaikan tak berpenghuni, tak biasanya rumah di biarkan kosong seperti ini,  sambil menghela nafas panjang dia pun menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.

Tangannya hendak menggapai surat kabar yang berada diatas meja ruang tamu, namun ada sesuatu jatuh dari dalam selipan surat kabar tersebut , dengan penuh hati-hati diapun mengambilnya dan jantungnya kembali berdetak kencang saat di dapatinya sebuah undangan pernikahan bewarna pink muda yang bertuliskan nama Rasha Aiman Nugraha , tangannya kaku,tubuhnya lemas dan jari-jemarinya seakan  tidak punya kekuatan untuk membuka isi dari undangan tersebut.

Dengan penuh keberanian, Aisha pun membuka undangan tersebut dan tertulis jelas nama dari kekasihnya tersebut, Rasha Aiman Nugraha putra pertama dari Bpk Hendra Nugraha yang menikah dengan Elis Nuryani putri pertama dari Bpk Suhaedin.Aisha tak kuasa menahan tangis, tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga, seakan sebagian nyawanya telah pergi dari dirinya, mulutnya kaku tanpa bisa berkata apapun, semua terasa amat gelap saat itu.

Tak berapa lama orang tuanya pun datang, mereka begitu shok melihat putri kesayanganya lemas tak berdaya tatapan matanya kosong dan air mata membanjiri kelopak matanya, dengan sigap sang Mamah langsung memeluk buah hatinya dan berusaha menenangkanya..

“ Ada apa ini Mah? Apa yang terjadi? “ tanyanya dengan suara bergetar, belum sempat sang mamah menjelaskan, Aisha sudah beranjak dari pelukan sang mamah dan mengambil kunci mobilnya, sang mamah sudah  tidak dapat menahan buah hatinya untuk pergi.

Mobil Aisha berlaju sangat kencang, dan seketika menghilang dari pandangan orang tuanya, begitu hancur hatinya saat itu, ketika harapannya di masa depan telah pupus, yang ada dipikarannya saat itu adalah hanya menemui Rasha untuk meminta penjelasan, tak lama diapun sampai di depan pintu rumah Rasha dengan tangan yang bergetar diapun mengetuk pintu rumahnya.

            “ Sha-sha, ujar Rasha ketika membuka pintu, dia pun langsung memeluk kekasih hatinya tersebut, mendekap erat Aisha seakan tidak mau melepaskan gadis yang sangat di cintainya itu, seakan Rasha merasakan kepedihan hati Aisha.

Dengan tatapan penuh amarah, Aisha menatap Rasha yang saat itu berada di hadapanya

            “ Ada apa ini ka?” tanyanya sambil menunjukan undangan pernikahan Rasha, “ Apa maksud dari semua ini, kenapa Kaka ingkari janji kita, apa salah sha-sha ka?”
            “ Sha-sha, kamu tidak salah apa-apa, “ jawabnya pelan sambil menundukan kepala.
            “ Teruuss kenapa Kaka sakiti perasaanku, “ Aisha tak dapat membendung lagi isak tangisnya yang mengalir deras membasahi kelopak matanya.
            “ Sha, Kakapun tersakiti dengan keadaan ini, kaka pun terluka,  akan tetapi memang ini yang harus kaka hadapi untuk suatu tanggung jawab yang harus kaka jalani.

Aisha semakin tidak mengerti dengan jawaban yang disampaikan oleh Rasha, mengapa Rasha juga tersakiti, mengapa semua ini karena untuk suatu tanggung jawab yang harus dijalani dan akhirnya rasha pun melanjutkan pembicaraanya.

            “ Sebulan yang lalu, sewaktu Kaka menuju Bandung hendak menemuimu Kaka terkena musibah, saat itu hujan sangat deras dan jalanan sulit untuk dikendalikan, sampai akhirnya tak sengaja Kaka menabrak seorang Bapak-bapak pencari kayu bakar, Kaka sudah berusaha membawanya ke rumah sakit terdekat tapi tuhan berkata lain, Bapak tersebut meninggal dunia, dan belakangan ini Kaka mengetahui Bapak tersebut memiliki seorang anak perempuan bernama Elis yang sedang hamil 3 Bulan yang menjadi  korban pemerkosaan, dan  Kaka pun  memutuskan untuk menikahi Elis dan menjadi Ayah dari Anak yang sedang dikandungnya,”

Tubuh Aisha kaku seketika, mendengar penjelasan dari Rasha, hatinya hancur namun bangga akan apa yang sudah dilakukan kekasihnya, begitu besar tanggung jawab yang harus dilakukannya kendati Aisha pun merasakan begitu perihnya hati Rasha, Begitu besar pengorbanan yang harus dilakukan oleh Rasha, Aisha semakin tak dapat membendung lagi isak tangisnya dan larut dalam pelukan Rasha, pelukan terkahir Rasha sebelum Rasha mengikrar janji untuk setia berada disamping gadis yang akan dinikahinya.

Serpihan hati Rasha dan Aisha melukiskan raga yang tidak dapat bersatu namun hati yang terus mengasihi , dengan do’a yang selalu menyertai dimanpun kehidupan membawa mereka berdua……………..